Infosatu.cyou – Ulama Martapura, Pelopor Maulid Habsyi Kalimantan Selatan
Alhamdulillah, dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT, ziarah dilanjutkan ke makam keempat di kawasan Kubah Wali Lima, Martapura, yakni makam Kiyai Haji Badruddin bin Mufti Kiyai Haji Ahmad Zaini, seorang ulama besar yang lebih masyhur dengan sebutan Guru Ibadah. Ziarah ini menjadi wasilah untuk mengenang jejak perjuangan, keilmuan, dan keteladanan beliau dalam mengabdikan hidup untuk agama dan umat.
Guru Ibadah dikenal sebagai sosok ulama yang alim, karismatik, dan berwibawa. Keilmuan beliau berpadu dengan akhlak yang luhur, menjadikannya panutan bagi masyarakat Martapura dan Kalimantan Selatan. Selain berdakwah dan membimbing umat, beliau juga pernah mengemban amanah dalam bidang administrasi pemerintahan, khususnya yang berkaitan dengan urusan keagamaan, tanpa mengurangi kezuhudan dan kesederhanaan hidupnya.
Beliau wafat pada malam Rabu, 28 Jumadilakhir 1413 Hijriah, bertepatan dengan 23 Desember 1992 Masehi, meninggalkan duka mendalam bagi umat yang mengenal dan mencintainya.
Dalam sejarah dakwah Islam di Banua, Guru Ibadah diyakini sebagai ulama pertama yang memperkenalkan pembacaan Maulid Habsyi di Kalimantan Selatan. Tradisi mulia ini kemudian tumbuh, berkembang, dan mengakar kuat di tengah masyarakat Banjar. Pada sekitar tahun 1960-an, Maulid Habsyi (Simthud Durrar) semakin meluas dan dikenal, terlebih saat dipopulerkan oleh Syeikh Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul), dengan iringan seni terbang khas Banjar dan lantunan syair maulid yang menyejukkan hati serta menghidupkan cinta kepada Rasulullah SAW.
Kiyai Haji Badruddin lahir di Martapura pada 29 Zulkaidah 1355 Hijriah, bertepatan dengan 11 Februari 1933 Masehi. Beliau merupakan anak keempat dari pasangan Kiyai Haji Ahmad Zaini dan Hajjah Sanah, adik dari Kiyai Haji Husin Qadri, serta kakak dari Kiyai Haji Muhammad Rosyad. Lingkungan keluarga yang sarat dengan nilai keilmuan dan keagamaan turut membentuk kepribadian beliau sebagai ulama yang teguh memegang prinsip syariat dan akhlak.
Selain berdakwah dan mengajar, Guru Ibadah juga mengabdikan diri melalui jalur pelayanan publik.
Atas jasanya, beliau dianugerahi Lencana Penegakan Satya oleh Pemerintah Indonesia, sebagai penghargaan atas peran beliau dalam membantu pemberantasan kelompok PKI di Kalimantan Selatan. Karier pengabdian beliau dimulai pada tahun 1956 sebagai kepala di Desa Jawa dan Sungai Paring, Martapura, kemudian pada tahun 1960 dilantik sebagai pegawai Dinas Agama Kabupaten Banjar, memperkuat kiprahnya dalam pengelolaan urusan keagamaan masyarakat.
Melalui dakwah yang menyejukkan, kepemimpinan yang amanah, serta pengabdian tanpa pamrih, Kiyai Haji Badruddin (Guru Ibadah) dikenang sebagai ulama teladan. Jejak perjuangan beliau tidak hanya terpatri di pusara Kubah Wali Lima, tetapi terus hidup dalam tradisi, amalan, dan kecintaan umat terhadap ilmu serta Maulid Nabi Muhammad SAW.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, maghfirah, dan tempat terbaik di sisi-Nya bagi Guru Ibadah, serta menjadikan ziarah ini sebagai wasilah keberkahan bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.



