Infosatu.cyou – Nama Sulthan Hidayatullah atau Pangeran Hidayatullah tercatat sebagai Raja Banjar ke-16, putra dari Sulthan Abdurrahman (Raja Banjar ke-15), cucu Sulthan Adam Al Wasiqubillah (Raja Banjar ke-14), dan cicit Sulthan Sulaiman Rahmatullah (Raja Banjar ke-13). Beliau bukan hanya pewaris tahta Kesultanan Banjar, tetapi juga simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Dalam sejarah perjuangan rakyat Banjar, Sulthan Hidayatullah dikenal sebagai sosok yang teguh mempertahankan kedaulatan dan martabat kerajaan. Namun, perjuangannya menghadapi siasat licik penjajah. Dengan tipu daya dan politik adu domba, Belanda berhasil melemahkan posisi beliau hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat, bersama panglima perangnya.
Pengasingan tersebut bukanlah akhir dari pengaruh dan perjuangannya. Di tanah Jawa, Sulthan Hidayatullah tetap menjadi figur yang dihormati. Keteguhan iman, keluasan ilmu agama, serta kewibawaannya menjadikan beliau dikenal dengan gelar “Ulama Berjubah Kuning.” Gelar itu mencerminkan kemuliaan akhlak dan kedalaman spiritualnya, sekaligus menunjukkan bahwa perjuangannya tidak hanya di medan perang, tetapi juga melalui dakwah dan keteladanan.
Makam Sulthan Hidayatullah di Cianjur kini menjadi salah satu situs bersejarah yang menyimpan jejak perjuangan panjang rakyat Banjar melawan penjajahan. Banyak peziarah datang untuk mengenang jasa dan pengorbanan beliau, mendoakan, sekaligus meneladani semangat keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan kebenaran.
Kisah hidup Sulthan Hidayatullah menjadi pengingat bahwa sejarah Banjar tidak lepas dari pengorbanan para pemimpinnya. Meski diasingkan jauh dari tanah kelahiran, semangat perjuangannya tetap hidup dalam ingatan masyarakat hingga kini.



