Infosatu.cyou – Habib Muhsin bin Abdullah Assegaf dikenal sebagai seorang ‘allamah (ulama besar) sekaligus sufi yang lahir di lingkungan keluarga ulama besar di Hadramaut, Yaman. Ayah dan kakeknya merupakan tokoh ilmu yang berpengaruh pada zamannya, sehingga sejak kecil beliau tumbuh dalam tradisi keilmuan yang kuat.
Sejak usia muda, Habib Muhsin menimba ilmu dari ayahnya serta para ulama besar di zamannya. Dalam bidang tasawuf, guru utama beliau adalah Habib Ali bin Muhammad Al‑Habsyi. Habib Muhsin juga dikenal sebagai orang yang menghimpun berbagai kalam dan nasihat Habib Ali Al-Habsyi menjadi sebuah kitab yang dikenal dengan nama Kunuzus Sa’adah.
Sementara dalam bidang fiqih, beliau berguru kepada Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf.
Hijrah ke Nusantara
Pada tahun 1344 Hijriah, ketika berusia sekitar 50 tahun, Habib Muhsin meninggalkan Hadramaut. Dalam perjalanan menuju Nusantara, beliau sempat singgah di Singapore, sebelum akhirnya menetap di Surakarta (Solo).
Di Indonesia, beliau menjalin hubungan erat dengan para tokoh habaib besar pada masa itu, di antaranya:
Habib Ali bin Abdurrahman Al‑Habsyi di Kwitang
Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf di Gresik
Habib Muhsin juga pernah menghadiri majelis khataman Ihya’ di Gresik yang dipelopori oleh Habib Abu Bakar Assegaf.
Keistimewaan dan Karya
Selain dikenal sebagai ulama dan sufi, Habib Muhsin juga merupakan ahli sastra dan penyair bahasa Arab. Beberapa syair beliau sarat dengan pesan spiritual dan pengingat tentang kehidupan akhirat.
Salah satu syairnya berbunyi:
وَاذْكُرُوا بَعْدَ جَمْعِنَا جَمْعَ حَشْرٍ
كَرُبَاتٌ بِهَا عَلَى النَّاسِ تَشْتَدُّ
Artinya:
“Ingatlah bahwa setelah pertemuan kita saat ini, kelak kita akan berkumpul kembali di Padang Mahsyar, ketika berbagai kesulitan besar akan menimpa manusia.”
Syair tersebut menjadi pengingat bahwa setiap pertemuan di dunia hanyalah sementara, dan manusia pada akhirnya akan kembali berkumpul di hadapan Allah pada hari kebangkitan.



