Sen, 23 Maret 2026
spot_img

Lavrov Sentil Keras Pemimpin Arab: “Jangan Duduk di Dua Unta Sekaligus”

Infosatu.cyou, Moskow — Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, melontarkan kritik tajam terhadap para pemimpin negara-negara Arab yang dinilai terlalu tunduk pada tekanan Barat, khususnya Amerika Serikat, dalam menentukan arah kebijakan geopolitik mereka.

Dalam pernyataan terbarunya pada Maret 2026, Lavrov menyoroti apa yang ia sebut sebagai “ketidaktegasan moral dan politik” di kalangan elit Arab. Ia bahkan menyebut bahwa sebagian pemimpin lebih takut terhadap figur seperti Donald Trump—sebagai simbol kekuatan Washington—dibandingkan berpegang pada nilai-nilai keagamaan dalam mengambil keputusan.

“Ketika keputusan politik lebih dipengaruhi tekanan eksternal daripada prinsip sendiri, maka arah kebijakan menjadi rapuh,” sindir Lavrov.

Sorotan pada Isu Palestina

Lavrov juga mengkritik perubahan sikap sejumlah negara Arab terhadap konflik Israel–Palestine conflict. Ia menilai, ada kecenderungan mengendurkan dukungan terhadap Palestina demi menjaga hubungan strategis dengan Washington.

Menurutnya, sikap tersebut mencerminkan inkonsistensi yang dapat merugikan solidaritas kawasan dan memperlemah posisi dunia Arab di panggung internasional.

Analogi “Dua Unta”

Dalam kritiknya yang tajam, Lavrov menggunakan analogi unik: “tidak baik duduk di atas dua unta sekaligus.” Pernyataan ini ditujukan kepada beberapa kerajaan Arab yang dinilai tidak konsisten antara pernyataan resmi dan tindakan di lapangan, khususnya terkait kebijakan militer dan penggunaan wilayah udara.

Tegaskan Dukungan pada Iran

Lavrov juga menolak tegas desakan untuk mengisolasi Iran. Ia justru mempertanyakan keberanian negara-negara Arab dalam mengutuk aksi militer Israel dan Amerika Serikat yang disebutnya telah menimbulkan korban sipil, termasuk di fasilitas pendidikan.

Rusia Tak Tinggalkan Sekutu

Menutup pernyataannya, Lavrov menegaskan bahwa Rusia tidak akan meninggalkan sekutunya dalam situasi apa pun, termasuk Iran. Ia juga menyindir sikap diam sebagian pemimpin Arab saat isu kehormatan agama dan kedaulatan bangsa tengah diuji.

Pernyataan keras ini mencerminkan meningkatnya ketegangan geopolitik global sekaligus mempertegas posisi Rusia dalam memperluas pengaruhnya di Timur Tengah, di tengah rivalitas yang kian tajam dengan Barat.

Postingan Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

0PelangganBerlangganan
- Iklan -spot_img

Berita Terbaru