Sab, 14 Maret 2026
spot_img

AS Habiskan 800 Rudal Patriot dalam Tiga Hari Hadapi Serangan Drone Iran

Infosatu.cyou, Timur Tengah — Perang yang baru berlangsung tiga hari antara Amerika Serikat dan Iran memunculkan fakta mengejutkan. Militer Amerika dilaporkan telah menghabiskan sekitar 800 rudal pencegat MIM-104 Patriot untuk menangkis gelombang serangan drone Iran di kawasan tersebut.

Jumlah tersebut dinilai sangat besar dan memicu kekhawatiran terkait efektivitas biaya dalam menghadapi serangan drone yang relatif murah. Banyak analis militer menyoroti ketimpangan biaya antara rudal pencegat Patriot yang bernilai jutaan dolar per unit dengan drone tempur Iran seperti Shahed drone yang harganya jauh lebih murah.

Situasi ini semakin disorot karena 800 rudal Patriot tersebut diperkirakan merupakan jumlah produksi selama satu tahun, namun habis digunakan hanya dalam waktu tiga hari pertempuran intensif.

Sebagai perbandingan, Presiden Volodymyr Zelensky sebelumnya menyebut negaranya menggunakan sekitar 800 rudal Patriot sejak tahun 2022 untuk menangkis serangan udara dari Russia dalam konflik yang berlangsung di Ukraina.

Kondisi ini membuat Amerika Serikat bersama negara-negara sekutunya di Timur Tengah semakin kerepotan menghadapi serangan drone Iran yang datang secara berulang dan dalam jumlah besar. Sejumlah video yang beredar di media sosial menunjukkan penggunaan rudal Patriot secara masif untuk mencegat serangan udara tersebut.

Untuk memperkuat pertahanan, Washington dilaporkan mengirim tambahan rudal pencegat ke kawasan Timur Tengah. Upaya ini juga didukung oleh pengerahan kapal angkatan laut serta pesawat tempur.

Selain sistem Patriot, Amerika juga mengandalkan sistem pertahanan rudal jarak jauh Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) sebagai tulang punggung perlindungan terhadap ancaman rudal dan drone. Bahkan, sejumlah unit sistem pertahanan tersebut dilaporkan akan dipindahkan kembali ke Timur Tengah dari Korea Selatan dalam waktu dekat.

Langkah pengerahan ulang ini mengingatkan pada situasi saat konflik antara Israel dan Iran pada musim panas tahun lalu, ketika Pentagon menempatkan tambahan sistem pertahanan udara di kawasan tersebut sebelum akhirnya ditarik kembali.

Sementara itu, Iran mengklaim serangan balasan mereka telah berhasil merusak beberapa aset pertahanan udara milik Amerika di negara-negara Teluk, termasuk radar tetap maupun bergerak yang menjadi bagian dari sistem Patriot dan THAAD. Jika klaim tersebut benar, kerusakan itu berpotensi melemahkan kemampuan peringatan dini serta intersepsi serangan udara Amerika di kawasan tersebut.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan logistik dan biaya dalam menghadapi teknologi militer yang semakin asimetris.

Postingan Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

0PelangganBerlangganan
- Iklan -spot_img

Berita Terbaru