Rab, 25 Maret 2026
spot_img

Kisah Spiritualitas Habib Ahmad Bafaqih: Dari Derita Menuju Kemuliaan

Infosatu.cyou – Sosok Habib Ahmad Bafaqih dikenal luas sebagai seorang wali Allah yang memiliki kedalaman spiritual luar biasa. Ia diyakini memperoleh anugerah berupa futuhal ‘arifiin, kasyaf, dan ilmu ladunni, meski tidak pernah menempuh pendidikan formal.

Kisah perjalanan spiritualnya sarat dengan ujian hidup yang berat. Dalam sebuah riwayat yang ia sampaikan kepada Habib Ahmad bin Husein Assegaf, terungkap bagaimana awal mula ia mencapai derajat kewalian.

Saat ditanya mengenai gurunya, Habib Ahmad Bafaqih menjawab dengan penuh keyakinan, “Guruku Allah SWT, Malaikat Jibril, dan Rasulullah SAW.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ia termasuk golongan majdzub, yakni hamba yang mendapat limpahan kedekatan kepada Allah tanpa melalui proses suluk yang lazim.

Perjalanan itu bermula dari kehidupan yang penuh keterbatasan. Ia hidup dalam kemiskinan, dengan kondisi fisik yang tidak sempurna, serta harus menanggung beban keluarga setelah ayahnya wafat. Dalam kondisi serba sulit, ia berusaha mencari makanan untuk saudari-saudarinya yang kelaparan, meski harus berjalan tertatih-tatih.

Puncak ujian terjadi saat ia beristirahat di Masjid Gedhe Kauman. Di tempat itu, ia dikunci sendirian pada malam hari oleh penjaga masjid. Dalam kesendirian dan keputusasaan, ia menangis dan bermunajat kepada Allah, menyerahkan seluruh hidupnya dengan penuh keikhlasan.

Di tengah munajat itulah, ia mengaku mendapatkan pengalaman spiritual luar biasa. Ia mendengar salam dan berjumpa dengan Nabi Muhammad yang memberikan kabar gembira tentang pembukaan jalan hidupnya. Tak lama kemudian, Nabi Khidir juga hadir dan menyampaikan bahwa rezekinya akan datang serta mengajarinya menulis azimat.

Sejak peristiwa tersebut, kehidupannya berubah drastis. Rumahnya tidak pernah sepi dari tamu, mulai dari masyarakat umum hingga para ulama besar, termasuk Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki yang turut berkunjung.

Meski telah mencapai derajat tinggi dalam spiritualitas, Habib Ahmad Bafaqih tetap dikenal dengan pesan-pesan sederhana namun mendalam. Ia menekankan pentingnya bersyukur dan memilih lingkungan pergaulan yang baik. “Aku hanya mencari teman orang yang bersyukur,” tuturnya, seraya mengingatkan agar menjauhi sifat gelisah terhadap urusan dunia.

Kini, dakwahnya diteruskan oleh para keturunan dan muridnya, di antaranya Habib Umar bin Ahmad Bafaqih, Habib Ali bin Ahmad Bafaqih, serta tokoh-tokoh lain di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Selatan.

Tradisi haul keluarga tetap dilaksanakan di wilayah Kemusuh, Yogyakarta. Meski Habib Ahmad Bafaqih wafat pada bulan Sya’ban, peringatan haul yang digelar setiap Ahad terakhir bulan Syawwal merupakan haul ayahandanya, dan tradisi tersebut terus dipertahankan hingga kini.

Kisah hidup Habib Ahmad Bafaqih menjadi teladan bahwa kesabaran, keikhlasan, dan ketergantungan penuh kepada Allah dapat mengangkat derajat seseorang, bahkan dari kondisi paling sulit sekalipun.

Postingan Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

0PelangganBerlangganan
- Iklan -spot_img

Berita Terbaru