Rab, 21 Oktober 2026
spot_img

Dari Tarim ke Surabaya, Perjalanan Hidup Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus

Infosatu.cyou, Jawa Timur – Kisah kehidupan Al-Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus menjadi salah satu potret keteladanan ulama yang dikenal melalui kesederhanaan, kecintaan terhadap zikir dan selawat, serta kepedulian kepada kaum fakir miskin.

Lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman, Habib Muhammad al-Aydrus tumbuh dalam lingkungan keluarga yang lekat dengan tradisi keilmuan Islam, tasawuf, dan adab. Sejak kecil, beliau mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya, Al-Arif Billah Habib Husein bin Zainal Abidin al-Aydrus.

Dalam sejumlah kisah manakib yang mengisahkan perjalanan hidupnya, sisi spiritual Habib Muhammad al-Aydrus disebut tidak banyak ditampakkan kepada masyarakat awam. Namun, di kalangan para arifin billah, beliau dikenal melalui kedalaman spiritual dan kisah-kisah karamah yang dinisbatkan kepadanya.

Merantau dari Tarim hingga Surabaya

Setelah dianggap cukup matang, Habib Muhammad al-Aydrus memulai perjalanan perantauan ke Singapura dengan keyakinan dan tawakal kepada Allah SWT. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ke Palembang, Sumatera Selatan.

Di Palembang, beliau menikah dan dikaruniai seorang putri. Setelah itu, perjalanan hidupnya membawanya ke Pekalongan, Jawa Tengah. Kota ini menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan beliau, termasuk pertemuannya dengan Al-Imam Quthb Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf dari Gresik. Di Pekalongan pula, beliau disebut kerap mendampingi Habib Ahmad bin Tholib al-Atthos.

Dari Pekalongan, Habib Muhammad al-Aydrus kemudian berpindah ke Surabaya untuk tinggal bersama pamannya, Habib Musthafa al-Aydrus.

Pada masa itu, Surabaya dikenal sebagai salah satu tempat berkumpulnya para habaib dan ulama keturunan Alawiyin. Di antara tokoh yang disebut hidup dalam lingkungan keilmuan tersebut adalah Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdor, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, serta Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya.

Lingkungan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kehidupan dan interaksi keilmuan Habib Muhammad al-Aydrus.

Mengisi Hari dengan Zikir dan Selawat

Salah satu sisi kehidupan Habib Muhammad al-Aydrus yang menonjol adalah kesederhanaannya. Beliau digambarkan sebagai sosok pendiam, tidak berlebihan dalam makan dan tidur, serta senantiasa berusaha mengisi waktu dengan ibadah.

Zikir dan selawat kepada Rasulullah SAW menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Beliau juga dikenal gemar membaca kitab-kitab yang mengisahkan kehidupan dan keteladanan kaum salaf.

Waktu antara Magrib hingga Isya disebut dimanfaatkannya untuk menelaah kitab. Sementara itu, setiap malam Jumat, beliau mengadakan pembacaan Qasidah Burdah bersama para jamaahnya.

Habib Muhammad al-Aydrus juga dikenal terbuka kepada para tamu. Setiap hari, sekitar pukul 10.00 hingga menjelang Zuhur, beliau menyediakan waktu untuk menerima dan menjamu orang-orang yang datang berkunjung, termasuk mereka yang berasal dari luar daerah.

Kebiasaan tersebut mencerminkan pentingnya memuliakan tamu dalam kehidupan seorang muslim.

Tidak hanya itu, beliau juga disebut senang memenuhi undangan kaum fakir miskin. Dalam kisah-kisah keteladanannya, beliau digambarkan berusaha menjaga kejujuran dalam perkataan dan tidak mengkhianati ataupun menzalimi sesama muslim.

Gemar Berziarah dan Menghormati Para Ulama

Selama menetap di Surabaya, Habib Muhammad al-Aydrus tetap melakukan perjalanan ziarah ke sejumlah daerah, terutama Tuban, Jawa Timur, dan Kudus, Jawa Tengah.

Ziarah tersebut menjadi bagian dari tradisi penghormatan kepada para wali dan ulama yang telah mendahului. Dalam kisah yang berkembang di kalangan pencinta manakib, beliau juga disebut pernah mengalami perjumpaan secara rohaniah dengan Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf dari Gresik.

Kisah-kisah semacam ini hidup dalam tradisi spiritual masyarakat dan menjadi bagian dari penuturan mengenai perjalanan batin para tokoh yang dihormati.

Warisan Akhlak dan Keilmuan Keluarga Alawiyin

Habib Muhammad al-Aydrus berasal dari keluarga Zainal Abidin yang dikenal dalam tradisi Alawiyin memiliki perhatian besar terhadap ilmu agama, tasawuf, dan pembinaan akhlak.

Dalam riwayat manakib keluarga tersebut, para leluhurnya digambarkan sebagai sosok yang mendalami ilmu-ilmu keislaman, baik ilmu pokok maupun cabang, serta mewariskan tradisi keilmuan kepada generasi berikutnya.

Keteladanan mereka tidak hanya terletak pada keluasan ilmu, tetapi juga pada adab, kerendahan hati, dan kesungguhan dalam menjalani kehidupan beragama.

Gambaran tersebut selaras dengan syair yang dinisbatkan kepada Al-Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad, yang mengajak umat untuk tetap mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan generasi tabiin dalam menempuh jalan menuju kemuliaan.

Pesan itu menegaskan bahwa kemuliaan tidak semata-mata diukur dari kedudukan, melainkan juga dari kesungguhan dalam menjaga tuntunan agama dan memperbaiki akhlak.

Keteladanan yang Relevan Sepanjang Zaman

Kisah kehidupan Habib Muhammad bin Husein al-Aydrus menghadirkan pelajaran tentang arti kesederhanaan, ketekunan beribadah, penghormatan kepada ulama, serta kepedulian terhadap sesama.

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, kebiasaan beliau menghidupkan zikir dan selawat, menyediakan waktu bagi tamu, serta memperhatikan kaum fakir miskin dapat menjadi inspirasi untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna.

Keteladanan tersebut mengingatkan bahwa kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW idealnya tercermin dalam perilaku sehari-hari: menjaga lisan, berlaku jujur, memuliakan sesama, dan menjauhi kezaliman.

Melalui kisah yang diwariskan dalam tradisi manakib, sosok Habib Muhammad al-Aydrus dikenang sebagai ulama bersahaja yang menjadikan ibadah, ilmu, dan akhlak sebagai bagian utama perjalanan hidupnya.

Postingan Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

0PelangganBerlangganan
- Iklan -spot_img

Berita Terbaru