Beranda Featured Khasanah Manaqib Singkat Syekh Ali Junaidi Berau

Manaqib Singkat Syekh Ali Junaidi Berau

0

Infosatu.cyou – Seorang bayi lahir di Desa Dalam Pagar, Martapura, pada tahun 1858 M. Bayi itu kemudian ditasmiahi dengan nama Ali Junaidi. Ia lahir dari keluarga ulama terpandang Banjar. Ayahnya, Tuan Qadhi Haji Muhammad Amin, menyadari bahwa anak tersebut adalah bagian dari mata rantai keturunan ulama besar di tanah Banua. Karena itu, sejak kecil ia dididik dengan penuh disiplin agar kelak menjadi penerus estafet keulamaan.

Dalam tradisi keluarga mereka diyakini bahwa “anak singa harus melahirkan singa.”

Sejak usia muda, Ali Junaidi diasuh dan dibimbing oleh ayahnya serta para pamannya. Pendidikan agamanya kemudian dilanjutkan hingga ke Tanah Haram, Makkah. Di sana ia duduk di hadapan para ulama besar zamannya, di antaranya Nawawi al-Bantani, Ahmad Zaini Dahlan, Bakri Syatha, serta Sayyid Muhammad Said Babashil dan para masyaikh lainnya.

Dalam masa menuntut ilmu di Tanah Haram, pergaulannya pun sangat selektif. Ia bersahabat dengan para penuntut ilmu yang kelak menjadi ulama besar di Nusantara. Di antara sahabatnya adalah Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Abdul Qadir Mandailing, Umar Sumbawa, Muhammad Yasin al-Fadani, Jamil Jambek, Sulaiman ar-Rasuli, serta Hasyim Asy’ari. Mereka hidup bersama dalam suasana keilmuan: sama-sama menuntut ilmu, berbagi kesulitan, dan saling menguatkan dalam perjalanan intelektual dan spiritual.

Setelah menamatkan pendidikan di Tanah Haram, Syekh Ali Junaidi kembali ke tanah Banjar. Ia kemudian berdakwah ke berbagai wilayah Kalimantan. Catatan perjalanan dakwahnya bahkan menyebutkan bahwa pada tahun 1898 ia menyeberang hingga ke Sarawak, Malaysia, ditemani oleh keponakannya yang juga seorang ulama, yaitu Syekh Ismail Khatib, yang kelak dikenal sebagai guru dari banyak ulama Martapura.

Pada tahun 1933, Syekh Ali Junaidi menetap di Berau, Kalimantan Timur. Di sana ia mengabdikan hidupnya untuk berdakwah, membimbing masyarakat, mengajarkan ilmu syariat, serta mendidik akhlak generasi muda. Melalui majelis ilmu yang dibangunnya, lahir banyak murid dan ulama yang kemudian melanjutkan dakwah di berbagai daerah.

Sebagaimana manusia pada umumnya, beliau pun akhirnya mengalami sakit dan kelemahan. Pada hari Senin, 20 Ramadhan 1943, tepat pada tengah hari, ruh ulama ini dipanggil kembali ke hadirat Allah SWT. Jenazahnya kemudian dimakamkan pada hari Selasa, 21 Ramadhan 1943.

Dalam kisah yang beredar di kalangan masyarakat Banjar, disebutkan bahwa setelah wafatnya, seorang ulama Banjar yang kelak sangat masyhur, yaitu Muhammad Zaini Abdul Ghani, pernah mendapatkan bimbingan ruhani darinya. Dalam pengalaman spiritual tersebut, beliau diarahkan untuk menimba ilmu kepada seorang ulama di Desa Gadung, Tapin—keponakan Syekh Ali Junaidi yang juga merupakan alumni Tanah Haram dan dikenal mendalam dalam ilmu ma’rifah.

Kisah-kisah seperti ini bagi sebagian orang merupakan pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan secara rasional. Namun dalam tradisi masyarakat Banjar, hal tersebut dipandang sebagai bagian dari karamah para wali dan ulama. Pada akhirnya, sebagaimana ungkapan para ulama: Wallahu a’lam, hanya Allah yang lebih mengetahui hakikat sebenarnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Exit mobile version