Infosatu.cyou, Solo – Sosok Habib Novel Alaydrus dikenal sebagai pendakwah yang mampu menghadirkan kesejukan dalam setiap majelisnya. Lahir di Solo pada 24 Juli 1975, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga religius sebagai putra pertama pasangan Muhammad Alaydrus dan Luluk Al-Habsyi.
Sejak dalam kandungan, kisah hidupnya sudah diwarnai nuansa spiritual. Sang ibu pernah bermimpi didatangi Habib Soleh Al-Hamid yang memberikan sebuah kitab berbahasa Arab. Mimpi tersebut diyakini sebagai isyarat akan masa depan sang anak yang kelak mendalami ilmu agama.
Nama “Novel” sendiri diberikan dengan harapan besar. Terinspirasi dari Habib Salim bin Jindan, ayahnya berharap ia tumbuh menjadi sosok dai yang lantang dan berpengaruh di tengah masyarakat.
Menjemput Ilmu dan Keberkahan
Perjalanan menuntut ilmu Habib Novel tidak selalu mulus. Setelah lulus SMA, ia sempat menghadapi larangan dari ibundanya untuk melanjutkan pendidikan ke luar kota. Namun tekadnya untuk mendalami bahasa Arab—demi meraih ilmu laduni sebagaimana nasihat sang kakek—membawanya ke Pesantren Darul Lughah wad Dakwah pada 1994.
Meski hanya sekitar tujuh bulan menimba ilmu, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam. Saat hendak pulang, ia mendapat pesan tak terduga dari Habib Hasan Baharun yang menyatakan bahwa ilmu dan keberkahan telah ia peroleh.
Perkataan itu terbukti. Sepulang dari pesantren, Habib Novel secara konsisten berguru kepada Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi sejak 1995 hingga wafatnya sang guru pada 2006.
Dari Majelis Lokal ke Panggung Dunia
Sepeninggal gurunya, Habib Novel mulai aktif berdakwah ke berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Ia kemudian mendirikan Majelis Ar-Raudhah yang berlokasi di kawasan Semanggi, Pasar Kliwon, Solo.
Majelis tersebut berkembang pesat dan menjadi magnet bagi ribuan jamaah setiap Jumat malam. Tidak hanya dari Solo, para pencari ilmu datang dari berbagai penjuru negeri untuk menghadiri kajian yang dikenal hangat dan penuh keteduhan.
Keunikan dakwah Habib Novel terletak pada pendekatannya yang menyentuh semua indera. Ia menekankan bahwa dakwah harus “enak” dilihat, didengar, dicium, dan dirasakan. Karena itu, majelisnya dikemas dengan estetika yang baik—mulai dari tata visual, kualitas suara, hingga suasana yang nyaman dan hidangan yang disajikan.
Berdiri di atas lahan seluas 1.800 meter persegi, Majelis Ar-Raudhah kini bukan sekadar tempat pengajian, tetapi telah menjadi ruang spiritual yang dirindukan banyak orang.
Dakwah yang Menyejukkan
Melalui perjalanan hidupnya, Habib Novel Alaydrus menunjukkan bahwa ketekunan dalam menuntut ilmu dan keikhlasan dalam berdakwah mampu membawa pengaruh luas. Dari Solo, langkahnya menjangkau dunia, menghadirkan pesan Islam yang damai dan penuh keindahan bagi umat.



