Ming, 26 April 2026
spot_img

Habib Ali Kwitang dan NU: Kisah Keteladanan Ulama dalam Menjaga Marwah Umat

infosatu.cyou – Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi atau yang dikenal sebagai Habib Ali Kwitang merupakan salah satu ulama kharismatik yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di Betawi. Lahir pada 1870, beliau menjadi tokoh sentral dalam jejaring habaib, menghubungkan ulama Nusantara dengan ulama Hadramaut dan Haramain pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20.

Pengaruhnya tidak hanya dalam dakwah, tetapi juga dalam menjaga hubungan harmonis antarulama dan organisasi keagamaan, termasuk dengan Nahdlatul Ulama (NU). Kedekatan tersebut tercermin dalam sebuah kisah penuh hikmah yang hingga kini masih dikenang di kalangan Nahdliyin.
Suatu hari, sejumlah ulama dan kiai berkumpul dalam musyawarah di kantor Partai NU. Di antara yang hadir tampak Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Habib Ali bin Husein Al-Athas, serta Muhammad bin Ali Al-Athas. Kehadiran Habib Ali Kwitang saat itu memenuhi undangan anak angkatnya, Idham Chalid, yang kala itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU.

Usai musyawarah, para hadirin tetap berada di tempat untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Seorang pemuda NU bernama Abdullah terlihat sibuk melayani tamu, mengantarkan makanan dan minuman dengan penuh hormat. Namun, perhatian Habib Ali Kwitang tertuju pada sebuah nampan yang dibawa Abdullah. Dengan penuh kehati-hatian, beliau meminta agar nampan tersebut diangkat. Ternyata, di bagian bawah nampan terdapat lambang NU.

Dengan suara lembut namun tegas, Habib Ali Kwitang bertanya maksud dari simbol tersebut. Abdullah pun menjelaskan bahwa itu adalah penanda kepemilikan nampan milik Partai NU.
Mendengar penjelasan itu, Habib Ali mengangguk, lalu memanggil Idham Chalid. Dalam suasana hening, beliau menyampaikan nasihat penuh makna:

“Jangan kalian berani-berani membuat jatuh perkumpulan ini (NU) dengan meletakannya di bawah.”
Pesan sederhana namun sarat makna itu menjadi pengingat bahwa organisasi keagamaan harus dijaga kehormatannya, tidak hanya secara simbolik tetapi juga secara nilai dan perjuangan.
Kisah ini telah lama hidup di tengah masyarakat, khususnya warga Nahdliyin, sebagai bukti eratnya hubungan antara habaib dan NU. Lebih dari itu, cerita ini mencerminkan bagaimana para ulama terdahulu saling menguatkan, menasihati, dan menjaga marwah umat dengan penuh kebijaksanaan.
Warisan keteladanan Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi tidak hanya dikenang dalam sejarah, tetapi juga terus menjadi inspirasi dalam merawat persatuan dan kehormatan umat Islam di Indonesia.

Postingan Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

0PelangganBerlangganan
- Iklan -spot_img

Berita Terbaru