Infosatu.cyou – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk berhasil mencatat kinerja keuangan yang tetap solid sepanjang tahun buku 2025, meskipun industri semen nasional tengah menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan. Berdasarkan siaran pers yang dirilis pada 1 April 2026, pasar semen domestik mengalami kontraksi sebesar 2,2% sepanjang 2025. Penurunan ini terutama dipicu melemahnya permintaan semen curah hingga 8,3% seiring berkurangnya anggaran infrastruktur pemerintah. Sementara itu, segmen semen kantong masih mampu tumbuh tipis sebesar 0,5%.
Di tengah kondisi tersebut, Indocement membukukan total volume penjualan sebesar 19,941 juta ton atau turun 2,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan domestik tercatat turun 3,9%, namun kinerja ekspor justru melonjak signifikan hingga 73,9%, menjadi penopang penting di tengah lesunya pasar dalam negeri. Dari sisi keuangan, pendapatan bersih perusahaan tercatat Rp17,73 triliun atau turun 4,4% secara tahunan. Meski demikian, laba tahun berjalan berhasil meningkat 12%. Kenaikan laba ini didorong oleh berbagai langkah efisiensi biaya, penurunan beban usaha, serta kontribusi keuntungan dari divestasi sebesar Rp670 miliar.
Kinerja positif juga tercermin dari peningkatan EBITDA sebesar 8,5% menjadi Rp4,27 triliun dengan margin EBITDA mencapai 24,1%. Selain itu, posisi kas perusahaan tetap kuat di angka Rp5,9 triliun pada akhir 2025, mencerminkan fundamental keuangan yang sehat dan likuiditas yang terjaga. Dalam memperkuat bisnis, Indocement melakukan sejumlah langkah strategis, di antaranya akuisisi terminal semen di Sulawesi Selatan dan Lombok, serta menjalin kemitraan usaha patungan di sektor mortar melalui anak usahanya. Perusahaan juga meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif hingga 29%, sebagai bagian dari upaya efisiensi sekaligus pengurangan emisi karbon.
Memasuki 2026, Indocement memperkirakan permintaan semen akan mulai membaik pada kuartal II, didorong oleh musim kemarau dan meningkatnya aktivitas konstruksi. Namun demikian, perusahaan tetap mewaspadai berbagai risiko global, khususnya terkait potensi kenaikan biaya energi. Dengan strategi efisiensi dan inovasi berkelanjutan, Indocement optimistis mampu menjaga kinerja dan memperkuat daya saing di tengah dinamika industri semen nasional.



