Infosatu.cyou, Banjarmasin – Tekanan hidup yang semakin berat di tengah naiknya harga kebutuhan pokok dirasakan banyak masyarakat, termasuk oleh Syamsudin Noor, seorang penyandang disabilitas di Banjarmasin.
Pria yang akrab disapa Udin ini telah tujuh tahun bekerja sebagai Office Boy (OB) di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Meski memiliki keterbatasan fisik karena tidak mampu berjalan kaki, Udin tetap menjalani aktivitasnya setiap hari demi menghidupi keluarga.
Setiap pagi pukul 07.00 WITA, Udin berangkat bekerja dan baru kembali ke rumah sekitar pukul 15.00 WITA. Gaji yang diterimanya diakui hanya cukup untuk bertahan hidup.
“Lumayan saja gajinya, cukup untuk tahan hidup. Walaupun memang luar biasa perjuangannya,” ujar Udin, Senin (13/4/2026).
Di usia 48 tahun, Udin harus menanggung tanggung jawab sebagai kepala keluarga dengan seorang anak yang masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar, serta seorang ibu yang telah berusia 95 tahun.
Di balik ketegarannya, Udin mengaku pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia bahkan sempat merasa putus asa hingga muncul keinginan untuk mengakhiri hidup.
“Ibaratnya ulun drop, kadang terpikir hal-hal nekat. Tapi ulun ingat keluarga,” ungkapnya dengan nada sedih.
Rasa kecewa juga dirasakan Udin setelah pernah terlibat sebagai anggota tim sukses dalam sebuah kegiatan politik, namun tidak mendapatkan perhatian setelah pihak yang didukungnya berhasil.
Ia menegaskan tidak ingin meminta-minta, melainkan berharap adanya pemberdayaan agar bisa mandiri.
“Ulun kada handak dibari duit. Ulun ingin diberdayakan, misalnya diberi modal usaha. Bisa utang atau bagi hasil, ulun siap,” tegasnya.
Upaya untuk mendapatkan modal usaha juga pernah dilakukan dengan mendatangi seorang tokoh agama di Banjarmasin. Namun harapan tersebut tidak membuahkan hasil.
Kini, Udin hanya berharap ada pihak yang peduli dan bersedia membantu memberikan modal usaha agar dirinya dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
“Semoga ada yang bisa membantu, supaya ulun bisa bangkit dan tidak terus seperti ini,” harapnya.



