Beranda Banjarmasin Spiritualitas Agama, Pondasi Kala Resesi Oleh: Noorhalis Majid

Spiritualitas Agama, Pondasi Kala Resesi Oleh: Noorhalis Majid

0

Infosatu.cyou – Di tengah ketidakpastian global yang semakin terasa, berbagai persoalan turut membayangi kehidupan masyarakat Indonesia. Nilai tukar rupiah melemah, harga kebutuhan pokok meningkat, biaya energi naik, pertumbuhan ekonomi melambat, hingga meningkatnya berbagai persoalan sosial dan lingkungan. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: apa yang menjadi pondasi utama agar bangsa tetap mampu bertahan menghadapi badai resesi dan ketidakpastian dunia?

Pertanyaan itu mengemuka dalam Dialog Kebangsaan bertema “Memperkuat Soliditas Kebangsaan di Era Ketidakpastian” yang menjadi pembuka Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) MUI Kalimantan Selatan, Senin (15/6/2026), di Banjarbaru. Dialog menghadirkan tiga narasumber yang membahas persoalan bangsa dari perspektif keagamaan, sosial, ekonomi, hingga ketahanan nasional.

Ketua Bidang Fatwa MUI Pusat, Prof. Dr. KH. M. Asrorun Ni’am Sholeh, Lc., M.A., menegaskan pentingnya sinergi antara ulama dan pemerintah dalam menjaga stabilitas kehidupan berbangsa. Menurutnya, menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah tidak hanya mencerminkan persoalan tata kelola pemerintahan, tetapi juga menjadi tantangan bagi para ulama dalam menjalankan fungsi pembinaan umat.

Ia menekankan bahwa kritik terhadap pemerintah harus ditempatkan sebagai upaya perbaikan, bukan untuk menjatuhkan. Dalam konteks tersebut, MUI harus hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Sementara itu, Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Dr. KH. Muchlis M. Hanafi, Lc., M.A., mengingatkan bahwa tantangan zaman saat ini tidak hanya berasal dari persoalan ekonomi dan geopolitik global, tetapi juga disrupsi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (AI), perubahan iklim, polarisasi media digital, serta menurunnya tingkat kepercayaan sosial di masyarakat.

Menurutnya, pondasi utama menghadapi berbagai tantangan tersebut bukan semata-mata ketahanan pangan, melainkan ketahanan pemikiran keagamaan dan kekuatan spiritualitas. Ketika spiritualitas tetap terjaga, masyarakat akan memiliki daya tahan moral dan optimisme untuk bangkit menghadapi berbagai kesulitan.

Pemahaman agama yang sehat, lanjutnya, harus ditandai dengan cara berpikir yang lurus, sikap moderat, akhlak yang mulia, dan kebijaksanaan dalam bermuamalah. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting dalam menjaga persatuan dan ketenangan sosial di tengah berbagai tekanan zaman.

Dari sisi ketahanan nasional, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P., menyoroti pentingnya kemandirian pangan, energi, dan air. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap impor pangan dapat menjadi ancaman serius bagi kedaulatan bangsa, terlebih dalam situasi geopolitik global yang semakin tidak menentu.

Karena itu, berbagai program strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional perlu dipercepat agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri dan berkelanjutan.

Dialog yang berlangsung dinamis tersebut juga diwarnai berbagai masukan peserta, mulai dari persoalan sertifikasi halal, harga pangan, pengawasan pasar, peran ulama dalam membangun optimisme umat, hingga hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

Seluruh hasil dialog kemudian menjadi bahan penting dalam Mukerda MUI Kalimantan Selatan yang menghasilkan sejumlah program strategis serta rekomendasi bagi pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.

Beberapa rekomendasi yang dihasilkan antara lain mendorong audit lingkungan untuk mengatasi kerusakan ekologi yang memicu banjir dan kebakaran hutan, pengelolaan sumber daya alam yang lebih berpihak kepada kesejahteraan masyarakat, peningkatan pengawasan terhadap penyimpangan ajaran agama, penguatan pendampingan hukum bagi pengurus MUI, serta pengaktifan kembali Komisi Perlindungan Anak di Kalimantan Selatan.

Pada akhirnya, seluruh pembahasan dalam dialog dan Mukerda tersebut mengarah pada satu kesimpulan penting: di tengah ancaman resesi dan ketidakpastian global, kekuatan spiritualitas, ketahanan moral, dan solidaritas sosial tetap menjadi pondasi utama yang menjaga masyarakat agar tetap kuat, optimistis, dan mampu bangkit menghadapi berbagai tantangan zaman.

Tulisan ini dapat digunakan sebagai artikel opini atau feature reflektif terkait hasil Dialog Kebangsaan dan Mukerda MUI Kalimantan Selatan 2026.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Exit mobile version