Infosatu.cyou, Banjarmasin – Habib Hamid Bahasyim atau yang lebih dikenal sebagai Habib Basirih merupakan seorang ulama besar dari Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai wali Allah yang memiliki kedalaman ilmu dan kehidupan spiritual yang tinggi. Beliau hidup pada masa kolonial Belanda hingga masa pendudukan Jepang di Banjarmasin.
Habib Hamid Bahasyim adalah putra dari Habib Abbas bin Abdullah Al Bahasyim dan Syarifah Sya’anah. Ayah beliau dikenal sebagai saudagar kaya dan seorang nakhoda kapal yang berdagang dari Surabaya menuju Banjarmasin melalui jalur laut Jawa. Keluarga besar Habib Hamid berasal dari keturunan para ulama Hadramaut yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Salah satu leluhur beliau adalah Habib Husein bin Awad Al Bahasyim yang datang dari Hadramaut dan tercatat sebagai penasihat agama bagi Sultan Sulaiman yang memerintah Kerajaan Banjar pada tahun 1808–1825.
Habib Hamid Bahasyim diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1860-an di wilayah Banjar. Sejak kecil beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius dan taat beragama. Pendidikan agama beliau kemudian dilanjutkan hingga ke tanah suci Makkah untuk memperdalam ilmu-ilmu Islam.
Di Makkah beliau bersahabat dengan ulama Banjar terkemuka yaitu Syekh Jamaluddin Al-Banjari yang merupakan keturunan dari ulama besar Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yang dikenal sebagai Datu Kelampayan.
Dari sisi nasab, Habib Basirih memiliki hubungan silsilah dengan salah satu Wali Songo yaitu Sunan Ampel. Keduanya sama-sama merupakan keturunan dari Muhammad Shahib Mirbath, seorang wali besar yang merupakan keturunan ke-16 dari Nabi Muhammad SAW. Dari jalur nasab tersebut, Sunan Ampel merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad SAW, sedangkan Habib Basirih berada pada keturunan ke-36.
Sepulang dari Makkah, Habib Hamid Bahasyim aktif berdakwah di tengah masyarakat. Beliau mengajarkan berbagai disiplin ilmu Islam seperti tauhid, fikih, dan tasawuf. Dakwah beliau dilakukan melalui pengajian serta pembinaan akhlak umat.
Namun setelah memasuki usia sekitar 50 tahun, beliau lebih banyak menghabiskan waktu dalam khalwat dan riyadhah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Habib Basirih dikenal sebagai sosok yang sering menyendiri untuk berzikir dan memperdalam ilmu tasawuf hingga mencapai tingkat ma’rifatullah.
Habib Hamid Bahasyim wafat pada usia lebih dari 90 tahun, tepatnya pada 15 Jumadil Awal 1368 Hijriah atau tahun 1949 Masehi. Makam beliau berada di kawasan Basirih, tepatnya di tepi Sungai Martapura di Jalan Keramat RT 09 RW 01 Kelurahan Basirih, Kecamatan Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Hingga kini, makam Habib Basirih menjadi salah satu tempat ziarah yang banyak dikunjungi masyarakat. Warisan keteladanan beliau dalam ibadah, akhlak, dan dakwah terus dikenang sebagai bagian penting dari sejarah ulama di Kalimantan Selatan.



