Jum, 13 Maret 2026
spot_img

Abu Tahsin al-Salhi: “Sheikh of Snipers” yang Bertempur Hingga Usia Senja

Infosatu.cyou – Di tengah konflik panjang di Timur Tengah, muncul sosok seorang pria tua berjanggut putih yang kembali memanggul senapan untuk membela negaranya. Namanya adalah Abu Tahsin al‑Salhi, seorang veteran perang Irak yang dijuluki “Sheikh of Snipers” atau “Hawk Eye.”

Pada usia ketika banyak orang memilih menjalani masa pensiun dengan tenang, ia justru kembali ke garis depan pertempuran untuk melawan kelompok ekstremis Islamic State.

Prajurit yang Hidup di Tengah Banyak Perang

Abu Tahsin al-Salhi lahir pada tahun 1953 di Irak. Ia bergabung dengan militer pada 1973, pada masa Timur Tengah diliputi berbagai konflik besar.

Sebagai penembak jitu terlatih, ia pernah mengikuti pelatihan militer di wilayah bekas Uni Soviet, termasuk di Belarus. Keahlian menembaknya membuatnya dikenal sebagai prajurit dengan akurasi tinggi di medan tempur.

Sepanjang hidup militernya, ia terlibat dalam sejumlah konflik besar, di antaranya:

Yom Kippur War di wilayah Golan Heights

Iran–Iraq War (1980–1988)

Gulf War (1990–1991)

Perang demi perang berlalu, namun kemampuan menembaknya tetap menjadikannya sosok yang disegani.

Kembali Bertempur Melawan ISIS

Ketika kelompok Islamic State mulai menguasai wilayah luas Irak pada 2014, Abu Tahsin sudah berusia lebih dari 60 tahun.

Alih-alih berdiam diri, ia kembali ke medan tempur.

Ia bergabung dengan milisi relawan Irak Popular Mobilization Forces, khususnya Ali al-Akbar Brigade, yang ikut bertempur bersama pasukan pemerintah Irak melawan ISIS.

Di garis depan pertempuran di kota-kota seperti:

Hawija

Tal Afar

ia dikenal sebagai sniper yang sangat efektif. Berbagai laporan menyebutkan ia berhasil menembak ratusan militan ISIS selama operasi militer.

Senapan Berat dan Julukan Legendaris

Abu Tahsin sering terlihat membawa senapan sniper berat seperti Steyr HS .50 atau varian senapan kaliber besar buatan Iran.

Karena janggutnya yang putih dan kemampuannya yang mematikan, rekan-rekannya memberi julukan:

“Sheikh of Snipers.”

Di kalangan pasukan Irak, beredar berbagai cerita tentang keberaniannya. Salah satu kisah populer menyebutkan ia pernah terlibat duel sniper dengan penembak ISIS yang menyamar sebagai korban tewas.

Cerita-cerita seperti itu membuat namanya menjadi legenda di antara para pejuang Irak.

Gugur di Usia 64 Tahun

Pada 29 September 2017, Abu Tahsin al‑Salhi gugur dalam pertempuran di dekat Hawija, Irak utara, ketika pasukan Irak berusaha merebut kembali wilayah dari ISIS.

Saat itu ia berusia 64 tahun.

Kepergiannya meninggalkan kesan mendalam bagi banyak warga Irak. Ia dipandang sebagai simbol keberanian—seorang pria tua yang tetap berdiri di garis depan ketika negaranya membutuhkan.

Warisan Seorang Prajurit

Abu Tahsin al-Salhi bukan sekadar sniper. Ia adalah simbol generasi prajurit yang hidup di tengah konflik panjang Timur Tengah.

Bagi sebagian orang, ia adalah pahlawan nasional.

Bagi yang lain, ia adalah veteran yang tak pernah benar-benar meninggalkan medan perang.

Namun satu hal yang pasti:

Seorang pria berjanggut perak pernah berdiri di medan perang Irak—membuktikan bahwa keberanian tidak selalu mengenal usia.

Postingan Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

0PelangganBerlangganan
- Iklan -spot_img

Berita Terbaru