Infosatu.cyou – Ketika pecah Perang Banjar pada 28 April 1859, pasukan kolonial Hindia Belanda mengepung istana Kesultanan Banjar di Martapura. Dengan persenjataan lengkap seperti meriam, senapan, dan pistol serta dibantu para pendukungnya, pasukan Belanda berhasil menguasai Martapura.
Pasukan kerajaan yang dipimpin Pangeran Hidayatullah terdesak dan banyak yang gugur. Untuk menyusun kekuatan baru, Pangeran Hidayatullah meninggalkan Martapura menuju Karang Intan dan bergabung dengan pasukan Pangeran Jantera Kesuma.
Selanjutnya, Pangeran Hidayatullah memerintahkan para pengikut dan panglimanya untuk membuat benteng pertahanan di kaki Gunung Pamaton. Pos-pos penjagaan didirikan untuk mengawasi kemungkinan serangan Belanda.
Tak lama kemudian, pasukan Belanda menyerang pos-pos pertahanan tersebut. Namun perlawanan sengit dari para panglima Banjar seperti Pambakal Intal dan Tumenggung Gamar membuat pasukan Belanda kocar-kacir. Dalam pertempuran itu, komandan Belanda dikabarkan gugur dan banyak tentaranya tewas, sementara pasukan Banjar berhasil merampas sejumlah senjata.
Setelah pertempuran, Pangeran Hidayatullah bersama para tokoh seperti Pangeran Jantera Kesuma, Pambakal Intal, Tumenggung Gamar, Kiai Puspa, Kiai Raksa Negara, Kiai Mas Demang, Kiai Jaya Suma, Kiai Suring Rana, dan Pangeran Antanamas mengadakan musyawarah untuk membahas kemungkinan serangan balasan Belanda.
Dalam sebuah kisah yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat Banjar, diceritakan bahwa selepas musyawarah pada tengah malam, Pangeran Hidayatullah mendapat panggilan misterius untuk naik ke puncak Gunung Pamaton. Di sana ia bertemu sosok gaib yang disebut sebagai Datu Pamaton. Sosok tersebut memberikan baju kebesaran berwarna kuning kepada Pangeran Hidayatullah dan berpesan agar kelak keturunannya diberi nama yang mengingatkan pada dirinya.
Sejak mengenakan pakaian kebesaran itu, menurut cerita rakyat, Pangeran Hidayatullah diyakini mendapat perlindungan gaib. Dalam berbagai kisah, pasukan Belanda bahkan kebingungan karena menganggap Pangeran Hidayatullah dapat muncul di berbagai tempat dalam waktu bersamaan.
Karena itulah dalam cerita yang beredar di kalangan masyarakat Banjar, Pangeran Hidayatullah kemudian dikenal dengan sebutan “Pangeran Berjubah Kuning.” Kisah ini menjadi bagian dari legenda perjuangan rakyat Banjar dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda.



