Infosatu.cyou, Banjarbaru – Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) menggelar Shalat Istisqa bersama jajaran Forkopimda, ulama dan masyarakat, Rabu (19/8/2026) pagi. Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang dan meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Shalat Istisqa dipimpin KH. Muhammad Mukri Yunus, sementara khutbah disampaikan Dr. H. Muhammad Tambrin, M.M.Pd. Kegiatan turut dihadiri Ketua DPRD Kalsel H. Supian HK, Kapolda Kalsel Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H., Wakapolda Kalsel, Irwasda Polda Kalsel, pejabat utama Polda Kalsel serta Kapolres Banjar.
Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol. Nur Khamid, S.H., S.I.K., M.M. menyampaikan, Kapolda Kalsel mengatakan kondisi kekeringan telah dirasakan langsung masyarakat selama lebih dari satu bulan.
“Sudah satu bulan lebih kita di Kalimantan Selatan tidak turun hujan. Titik api dan asap mulai mengganggu kegiatan masyarakat, sektor pertanian, peternakan, serta roda perekonomian. Melalui Shalat Istisqa ini, kita memohon ampunan dosa dan berdoa agar Allah SWT segera menurunkan hujan,” ujar Kapolda.
Kapolda Kalsel juga menginstruksikan seluruh jajaran Polres di wilayah hukum Polda Kalsel agar mengagendakan Shalat Istisqa bersama masyarakat di wilayah masing-masing.
Ketua DPRD Kalsel H. Supian HK mengapresiasi langkah Polda Kalsel tersebut. Menurutnya, kemarau dan kabut asap telah berdampak terhadap aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan dan transportasi.
“Ini adalah hal yang ditunggu-tunggu masyarakat. Kemarau dan asap tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga menyebabkan gangguan pada penerbangan dan transportasi,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat serta seluruh instansi terkait untuk bersama-sama memanjatkan doa, baik secara berjamaah maupun mandiri, sembari tetap melakukan upaya pencegahan karhutla.
Sementara itu, KH. Muhammad Mukri Yunus mengingatkan pentingnya berserah diri dan melakukan introspeksi diri dalam menghadapi ujian berupa kekeringan dan bencana alam.
Menurutnya, Shalat Istisqa merupakan bentuk itba’ atau meneladani ajaran Rasulullah SAW ketika menghadapi kondisi sulit dan bencana.
“Shalat pada hakikatnya adalah doa. Bencana dan kerusakan yang terjadi tidak lepas dari ulah manusia sendiri. Oleh karena itu, kita wajib berikhtiar dan memohon ampunan agar doa serta harapan kita dikabulkan oleh Allah SWT,” ungkapnya.
Melalui pelaksanaan Shalat Istisqa tersebut, Polda Kalsel berharap hujan segera turun sehingga kondisi kekeringan dapat teratasi dan ancaman karhutla di Kalimantan Selatan dapat diminimalkan.



