Ming, 13 September 2026
spot_img

Kebakaran Hanguskan Sembilan Bangunan di Sungai Jaranih, Tiga Rumah Lainnya Rusak

Infosatu.cyou, Barabai– Kebakaran hebat melanda permukiman warga di Desa Sungai Jaranih RT 005 RW 003, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kamis (10/9/2026) malam.

Dalam peristiwa tersebut, sembilan bangunan dilaporkan mengalami kerusakan 100 persen, sementara tiga rumah lainnya mengalami kerusakan sebagian. Total terdapat 12 rumah dan bangunan yang terdampak kebakaran.

Warga setempat, Udin, mengatakan api pertama kali terlihat berasal dari sebuah bangunan kayu milik H Anwar yang digunakan sebagai gudang. Saat kejadian, bangunan tersebut dalam kondisi kosong dan tidak dihuni.

“Api pertama kali terlihat dari gudang milik H Anwar. Saat itu bangunannya kosong dan tidak ada yang menempati,” ujar Udin.

Api kemudian dengan cepat membesar dan merambat ke bangunan-bangunan di sekitarnya. Dugaan sementara, kebakaran dipicu oleh korsleting listrik. Namun, penyebab pasti peristiwa tersebut masih belum dapat dipastikan.

“Untuk sementara diduga karena korsleting listrik, tetapi penyebab pastinya belum diketahui,” katanya.

Kobaran api semakin cepat membesar karena di sekitar lokasi terdapat kios penjualan bahan bakar minyak (BBM) eceran atau pom mini. Kondisi itu turut meningkatkan risiko api menjalar ke bangunan lainnya.

Selain itu, padatnya permukiman membuat api dengan mudah berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Bangunan yang berdempetan menyebabkan kobaran api menjalar dari bangunan di pinggir jalan hingga ke rumah-rumah yang berada di dalam gang.

Warga pun berupaya menyelamatkan barang-barang yang masih dapat dikeluarkan dari rumah masing-masing, sementara kobaran api terus membesar dan mengancam bangunan lain di sekitar lokasi.

Proses pemadaman juga menghadapi sejumlah kendala, terutama akses menuju lokasi kebakaran. Jalan desa yang menjadi jalur masuk tergolong sempit, sementara salah satu akses kendaraan roda empat dan mobil pemadam ditutup akibat pembangunan jembatan.

“Jalan masuknya sempit dan ada akses yang ditutup karena pembangunan jembatan. Jadi kendaraan pemadam harus mencari jalan alternatif,” ujar Udin.

Jalur alternatif tersebut membuat kendaraan pemadam harus menempuh jarak lebih jauh, sementara api terus merambat di antara bangunan warga yang berdekatan.

Kendala lainnya adalah keterbatasan sumber air. Kondisi kemarau menyebabkan sumber air yang dapat digunakan untuk penyedotan mesin portabel pemadam cukup sulit diperoleh.

“Air juga menjadi kendala karena sekarang masih kemarau. Sumber air untuk pemadaman cukup sulit didapat,” katanya.

Postingan Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

0PelangganBerlangganan
- Iklan -spot_img

Berita Terbaru